Pada 2 maret 2010, Jurusan Pendidikan Seni Musik UNY mengadakan konser musik klasik yang diisi oleh pianis ternama Ferdy Tumakaka. Ferdy merupakan pemenang pertama Jakarta piano Competition dan pada usia 21 tahun dia sudah menjadi music director di New York Ballet theater. Sebelum memulai, ia menyabutkan seluruh karya yang akan dibawakannya, “biar nggak bolak-balik ngomong” katanya.
Ferdy mengawali konsernya dengan French Suite No.5 in G Major karya Johann Sebastian Bach, sama seperti saat ia membuka konsernya “wanderer” di Jakarta pada 18 februari lalu. Suite yang merupakan kumpulan lagu berirama tarian dari era Barok tersebut terdiri atas enam bagian, dimulai dengan Allemande (tarian Jerman berirama dua) yang dinamis. Awalnya French Suite ini ditulis tahun 1722 untuk harpsichord atau clavichord. Sengaja diberi nama “French” agar tidak tertukar dengan dengan “English Suite”. Suita ini terdiri dari tujuh bagian, yaitu: Allemande, Courante, Sarabande, Gavotte, Bourree, Loure, dan Gigue. Johann Nikolaus Forkel yang menyusun biografi Bach, pada tahun 1802 mempopulerkan nama ini dengan bertutur, “Orang-orang biasanya menyebut karya ini French Suite karena ditulis dengan langgam Prancis,” Sebenarnya pernyataan tersebut kurang tepat, karena seperti suite Bach lainnya, semua ditulis dengan mengikuti pakem Italia. Selain itu, sebagaimana semua karya Bach, kiblat dari French Suite ini berada di bagian Sarabande dengan ciri khas tempo lambat dan ditulis dalam birama ¾.
Suita Perancis disambut dengan tepuk tangan meriah penonton sebelum ia melanjutkan dengan karya Claude Debussy “Images, Book 1” dimana terdapat tiga lagu di dalamnya, yaitu Reflets dans l’eau (Bayangan dalam air), Hommage à Rameau (Penghormatan untuk Rameau), dan Mouvement (Gerak). Alur melodi yang menggambarkan bayang-bayang cahaya dalam air, mengalir tenang dalam rubato yang terkontrol. Lantas pada Hommage à Rameau yang diciptakan Debussy untuk menghormati pendahulunya Jean-Phillipe Rameau(komposer era Barok Prancis), ada nuansa nostalgia dan kerinduan mendalam yang tak lekang oleh waktu. Mendengarkan Ferdy memainkan karya ini, momen seakan terhenti dan hanya terisi oleh denting-denting piano dalam gerak prosesional nan harmonis, syahdu, dan khidmat. Sementara itu, bagian Mouvement ditampilkan dengan menawan oleh alumni Manhattan School of Music ini.
Selanjutnya, Ferdy memainkan nada-ndada pentatonik di sela-sela dua interval nada. Ia memainkan komposisi Fugue dengan muatan Jawa didalamnya. Sebuah karya dari Leopold Godowsky, Komposer sekaligus pianis legendaris yang pada tahun 1923 melakukan serangkaian perjalanan ke tempat-tempat eksotik di seluruh dunia, sempat singgah di Jawa dimana ia memberikan kesannya yang mendalam, pernyataannya “Masuk ke Tanah Jawa membuat kita seolah-olah berada di dunia lain, atau sekelibat melihat dunia yang immortal. Musiknya sangat mengagumkan. Sulit menjelaskan kekaguman ini, sama sulitnya seperti berusaha menjelaskan warna pada seorang tunanetra,”. In The kraton ini diciptakan Godowsky pada 1925 dengan dasar musik Jawa yang sangat kentara.
Tepuk tangan panjang menyambut selesainya In The Kraton, penonton pun tak segan untuk berdiri menyatakan kekaguman permainan Ferdy Tumakaka. Ia kembali menuju pianonya dan memainkan sebuah encore karya Chopin, Bolero. Mungkin Ferdy memainkan lagu ini untuk memperingati 200 tahun kelahiran Chopin pada 1 maret yang lalu. Bolero dikomposisi pada 1833. bolero merupakan tarian dari spanyol yang terkenal pada abad 18. Chopin menciptakan komposisi bolero ini sementara ia belum pernah pergi ke Spanyol sebelumnya.
Tanggal 7 januari kemarin, Magenta kedatangan tamu yang ‘bertampang aneh.’ Bukan makhluk dari planet lain, masih dari bumi juga, tapi belahan bumi yang jauh dari tempat kita sekarang. Pisschrist dan Blockshot, band indie dari Jerman dan Australia. Band beraliran post-punk dan power pop ini mampir ke studio setelah sebelumnya manggung di beberapa tempat di Indonesia. “Kebetulan mereka ada jadwal main di Jogja, jadi sekalian aja datang kesini” kata si mungil dari Kongsi jahat Sindikat sebagai promotor yang kebetulan saya lupa namanya ^_^.
Bercakap-cakap bersama David, teman-teman Pisschrist dan blockshot mengungkapkan sangat senang bisa melakukan tour di beberapa tempat di jawa. Mereka juga memainkan beberapa lagu secara live di Magenta. Buat yang penasaran pengen dengerin interviewnya, langsung aja dengerin podcastnya di halaman podcast. enjoy ^_^V

1. Memotong lagu tapi tidak di outro lagu.
2. Nyebutin nama sendiri berulang-ulang.
3. Kebanyakan ngomong kalimat basa-basi spt “jangan kemana-mana” atau “don’t go anywhere”.
4. Terlalu sering pake space filler yang kurang penting, kayak “which is”, “mungkin”, “agak-agak”, “misalnya”, “yg namanya”, “ya”, “Nah…”, dll.
5. Kebanyakan ngomong daripada lagunya (mending kalo topiknya seru…)
6. Klo siaran duet banyak becandanya yg sering ga nyambung ma pendengar (cuma mrk ber-2 yg ngeh. Apalagi kalo lupa naikin suara salah satu penyiar. Sementara pendengar cuma bisa bilang “nich penyiar ngomong apaan seh?”)
Read more

Sebentar, apa sih enaknya jadi penyiar? Wah, banyak deh. Utamanya adalah self expression. Ekspresi diri, menurut sebuah penelitian, adalah sumber utama kebahagiaan. Selain itu masih banyak lagi untungnya, ada juga yang dapat jodoh karna jadi penyiar, de el el.
SIARAN radio tidak asal “cuap-cuap” di ruang siaran. Penyiar adalah seorang profesional, sebuah profesi yang butuh keahlian, skill, atau keterampilan tertentu. Seorang penyiar wajib memiliki kualifikasi tertentu sebelum layak siar (fit to broadcast), seperti menguasai teknik siaran, teknik mikrofon (miking technique), memahami naskah siaran dan cara menyampaikannya, studio protocol atau SOP siaran, dan log program. Oleh karenanya, sebelum menjadi penyiar radio, sebaiknya seseorang mengikuti dulu pelatihan siaran radio sehingga mampu menjadi komunikator efektif.
Read more